Kegiatan


FKPT Sumsel Gelar Lomba Video Pendek & Diskusi Film

PALEMBANG,fkpt sumsel — Upaya mencegah radikalisme dan terorisme Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumsel menggelar lomba video pendek dan diskusi film di Hotel Alts, Jalan Rajawali Palembang, Kamis (18/7/2019).  Acara yang diikuti pelajar SMA dan Pramuka ini menghadirkan artis film Ine Febriyanti.

Ine memberi pelatihan kepada 100 orang lebih pelajar SMA dan sederajat seluruh Sumsel. Ine yang tampil begitu komunikatif mengajak pelajar menonton beberapa film di antaranya film dokumenter dan film fiksi. Dalam pemaparannya, Ine yang mulai masuk layar kaca tahun 1996 silam dengan film layar kaca bertajuk Dewi Selebriti ini menjelaskan sedemikian banyak teknik-teknik praktis pembuatan video pendek. Umumnya video pendek yang diajarkan oleh Ine adalah vidoe-video bertema kebangsaan, kebhinekaan dan toleransi. Menurut dia, hal ini penting diajarkan kepada para pelajar dan kaum muda adalah hal-hal seperti ini. Intinya, dengan pembuatan video pendek, diharapkan ada edukasi dan penanaman pemahaman nasionalisme yang tumbuh secara spontan alami dari dalam hati generasi muda.

Ketua FKPT Sumsel Periansyah menjelaskan, kegiatan lomba pembuatan video pendek penjaringan peserta telah dilakukan sejak sebulan yang lalu. Dari penjaringan tersebut, selama sebulan lebih tersebut diperoleh hasil yang cukup memuaskan. Dimana animo peserta cukup tinggi, meskipun memang belum memenuhi target yang telah ditetapkan panitia.

Dari segi kepesertaan, memang tidak banyak yang akhirnya menyerahkan karya video pendek untuk dilombakan. Tetapi animo secara umum kami lihat cukup bagus. Itu terbukti dari banyaknya sekolah yang memberi respon positif terhadap kegiatan ini. Video pendek yang dinilai ada 12 video dari

Lomba video pendek dimenangkan oleh SMAN 1 Belitang, yqng memborong dua gelar juara satu dan dua. Juara 3 diraih MA Muqismussunnah.

Ya memang tentu saja tidak bisa semua yang berminat bahkan yang telah membuat video pendek akhirnya bisa dinilai karyanya. Kita lakukan seleksi terhadap puluhan peserta dari beberapa sekolah di Sumsel dan hasilnya setelah penjurian keluar 10 sekolah yang karyanya dinilai. Periansyah menjelaskan, terkait radikalisme upaya mendoktrinasi kerap dilakukan dengan berdalih agama. Mereka akan mengajak masyarakat untuk melakukan peribadatan. Setelah doktrin masuk, para korban akan berani menganggap orang lain musuh karena berbeda pandangan. Tidak hanya benci, namun bisa mengancam untuk melakukan pembunuhan.

Peri mengungkapkan, FKPT merupakan organisasi yang sifatnya pencegahan. Jadi lembaga ini bukan lembaga penanggulangan terorisme. Namun kegiatan yang sifatnya mengajak agar tidak terjadi upaya upaya radikalisasi di Sumsel.

Upaya yang dilakukan dengan mengedukasi melalui lomba video pendek dengan tema “Satu Indonesia” ini, ujar Peri menjadi cara efektif mengajak generasi milenial untuk peka dengan lingkungan dan memberikan pesan humanis bagi masyarakat.